Mohungguli

Ngana pe Teman Bercerita

5 Tradisi Gorontalo Ini Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Apa Sajakah?

Sejak tahun 2013 Kantor Wakil Republik Indonesia untuk UNESCO PBB aktif mencatat warisan-warisan budaya tak tetap yang meliputi praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Dan hingga kini sudah ada 15 warisan budaya dari Gorontalo yang sudah tercatat dan tentu saja sudah diakui oleh UNESCO PBB.

Untuk tahun 2017, ada 5 tradisi Gorontalo yang sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda. Tradisi-tradisi ini sudah jarang kita lihat, apalagi di perkotaan. Padahal tradisi ini sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun yang lalu atau mungkin ratusan tahun. Tapi di beberapa tempat tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan. Kamu tahu belum tradisi-tradisi ini?

Paiya Lohungo Lopoli
Sumber: matakameraku.wordpress.com

1. Paiya Lohungo Lopoli

Pa’iya lo hungo lo poli adalah satu ragam sastra lisan daerah yang berhubungan dengan pergaulan muda-mudi. Syair-syairnya mengandung percintaan tetapi bukan porno. Pa’iya lo hungo lo poli dibawakan oleh laki-laki dan perempuan mereka saling melempar rayuan satu sama lain dalam bahasa Gorontalo.

Pa’iya lo hungo lo poli berasal dari daerah Gorontalo yang terdiri dari kata “paiya” artinya melempar; “lo” kata sambung; “poli” sejenis pohon yang buahnya ringan. Buah poli yang ringan mengandung makna melempar kata dengan tidak saling menyakiti. Hal ini sesuai dengan filosofi hidup masyarakat Gorontalo yang menganut pola sopan santun dalam menyampaikan pendapat, nasehat bahkan kritikan.

2. Tuja’i

Tujai adalah ragam syair puisi adat berisi kata-kata sanjungan dan doa yang khusus diucapkan oleh pemangku adat / baate (ketua adat) dan wau (wakil baate), dengan syarat pemangku adat adalah mantan dari kepala desa / kelurahan. Tujai ini diucapkan pada upacara perkawinan, penobatan, penyambutan tamu dan kematian.

Adat penyambutan tamu merupakan salah satu adat yang masih dipelihara dan dilestarikan oleh masyarakat. Gorontalo yang dikenal dengan Molo’opu yaitu penjemputan secara adat baik tamu pemerintahan yang melakukan kunjungan ke daerah Gorontalo maupun penjemputan pejabat pemerintah seperti Gubernur, Bupati/Walikota, dan Camat dari rumah pribadi menuju rumah dinas (yiladia)

Tujai pertama kali dilaksanakan pada abad XVI sekitar tahun 1563 dalam perkawinan Sultan Amay dengan Putri Autango anak Raja Palasa dari Palu. Tokoh adat mempelajari adat tujai dari tokoh-tokoh adat yang lebih tua. Mereka mengatur peradatan sambil membacakan ragam upacara adat, memperlancar kegiatan, dan mentransformasikan ajaran.

wunungo
Sumber: limboto-city.blogspot.co.id

3. Wunungo

Wunungo artinya selingan merupakan nyanyian yang syair-syairnya berisikan tentang penghormatan, anjuran dan ucapan terima kasih yang biasanya dilakukan pada tadarusan Alqur’an. Wunungo juga dalam bahasa Gorontalo yaitu satu syair yang mengandung nasihat keagamaan khususnya agama Islam dan dilagukan serta dilafazkan bersama-sama atau berkelompok

Wunungo diperkirakan ada pada abad ke-18 setelah masyarakat sudah banyak mengenal dan membaca Alqur’an. Untuk memasyarakatkan Alqur’an para ulama menghimpun masyarakat bertadarus Alqur’an secara berkelompok dan membacanya secara bergiliran dan jika terjadi kesalahan dalam membaca Alqur’an maka untuk memberi kesempatan kepada pembaca memperbaiki bacaannya diselingi dengan wunungo

Tidi Lopolopalo
Sumber: thebridedept.com

4. Tidi Lopolopalo

Istilah Tidi lo Polopalo berasal dua kata dalam bahasa Gorontalo, yaitu tidi dan polopalo. Tidi diartikan sebagai tarian khusus keluarga istana, karena awal terciptanya tarian ini di lingkungan istana. Selanjutnya kata polopalo merupakan nama sebuah alat musik tradisional Gorontalo, yang terbuat dari sepotong bambu atau pelepah daun rumbia.

Tidi Lo Polopalo dikhususkan bagi kerabat istana, namun saat ini masyarakat biasa telah dibolehkan untuk melaksanakannya melalui persyaratan yang ada. Persyaratan tersebut dikenal dengan istilah mopodungga lo tonggu (membayar perizinan adat) yang harus dilakukan oleh penyelenggara Tidi lo Polopaloa.

Mopodungga lo Tonggu dilakukan dengan rangkaian adat pula, yaitu keluarga pengantin harus menyerahkan sejumlah uang (sesuai ketetapan adat yang berlaku) yang diletakkan pada malam berhias, kepada pemangku adat. Selanjutnya uang tersebut diserahkan ke Baitul Maal untuk disimpan sebagai uang kas mesjid atau lembaga peradatan.

5. Palebohu

Palebohu merupakan sebuah sastra lisan yang menggunakan bahasa Gorontalo dan sering dilafalkan pada hari pernikahan saat pengantin bersanding di pelaminan sebagai nasehat perkawinan dan pada saat penobatan pejabat. Biasanya palebohu ini dibawakan ketika pasangan sudah duduk bersanding di pelaminan didepan pengantin pria dan wanita pemangku adat melafalkan kata-kata dalam bahasa adat.

Dalam pelaksanaannya palebohu dibawakan oleh para pemangku adat atau bisa saja para imam yang ada di wilayah tersebut. Pengharapan dari palebohu ini tidak lain untuk memberikan nasehat kepada kedua mempelai agar kedepannya bisa membangun keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

Pada sastra lisan palebohu ini memiliki nilai pendidikan yang mengandung nasehat serta ajaran. Sastra lisan ini begitu banyak manfaatnya untuk kehidupan berumah tangga. Sebab begitu banyak nilai-nilai kehidupan yang diulas serta di ungkap didalamnya. Bahkan sudah diuraikan pula ganjaran-ganjaran ketika kita lalai dalam berumah tangga, baik suami maupun istri, dari hal yang kecil sampai yang paling besar.

Selain 5 tradisi ini sebelumnya ada Tumbilotohe, Sulam Karawo, Tradisi Lisan Tanggomo, Langga dan Binte Biluhuta yang sudah tercatat sebagai warisan budaya tak benda. Hmm.. menurut kamu masih ada lagi gak tradisi Gorontalo yang harus tercatat sebagai warisan budaya?

Info Graphic Gorontalo

One thought on “5 Tradisi Gorontalo Ini Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda, Apa Sajakah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *