Mohungguli

Ngana pe Teman Bercerita

Hoax Pertanian dan Pertanian Untuk Menurunkan Angka Kemiskinan di Gorontalo

Di tahun politik seperti ini hoax seperti menjadi makanan warganet setiap hari. Berita-berita yang tak bisa dipertanggungjawabkan, beredar dengan bebas di semua platform media sosial. Agar tidak termakan hoax tentu perlunya pendidikan untuk semua warganet dan media, setidaknya untuk bisa melakukan crosscheck untuk setiap informasi yang diterima.
Kekeliruan informasi ini bisa juga terjadi karena kurangnya akses warganet untuk mendapatkan informasi valid dan yang dapat dipertanggunjawabkan. Ini mungkin yang menjadi dasar hadirnya Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), forum dimana kita bisa langsung mendapatkan informasi akurat, data valid langsung dari institusi terkait. 
Forum Merdeka Barat 9 menjadi wadah untuk merespon isu-isu yang berkembang di masyarakat, dan juga untuk mengurai krisis informasi publik dari pemimpin institusinya langsung. 

Rabu kemarin saya berkesempatan menghadiri Forum Merdeka Barat 9 dengan narasumber Menteri Pertanian, bapak Andi Amran Sulaiman dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bapak Muhadjir Effendy. Sayangnya hari itu yang hadir hanya bapak Andi Amran Sulaiman. Tapi tak mengapa karena justru akan lebih menarik, belum lagi dipilihnya Provinsi Gorontalo sebagai pembuka FMB9 di awal tahun 2019.

Kenapa menarik? karena sektor pertanian menjaadi sektor yang diunggulkan sejak 18 tahun lalu sejak di resmikan sebagai provinsi. Selain ingin tahu perkembangan Gorontalo dalam pertanian, saya juga tertarik dengan seberapa besar sih perhatian pemerintah pusat pada daerah kecil ini yang bahkan masih tercatat sebagai salah satu provinsi termiskin di Indonesia.

Sumber: @FMB9ID_

FMIB9 dengan tema Pembangunan SDM dan Sektor Pertanian di Gorontalo pagi itu dimoderatori oleh guru besar Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo, bapak Prof. Dr. Ir. Mahludin Baruadi. Dibuka pak Menteri Pertanian sebagai narasumber pertama, beliau memaparkan kinerja Kementan selama 4 tahun terakhir.

Pak menteri sempat membahas isu yang baru-baru ini heboh soal hasil panen buah naga yang dibuang petani ke sungai. Sempat viral dan heboh, tim kementerian pertanian langsung mengecek ke lapangan, ternyata buah naga yang dibuang adalah buah naga yang memang sudah tidak layak dijual ataupun dikonsumsi. Akibat berita itu masyarakat muncul kekhawatiran di masyarakat. Tapi untungnya semua bisa langsung cepat ditanggapi sehingga tidak menjadi bola liar di masyarakat.

Di sektor pertanian tidak lepas dari pemberitaan-pemberitaan hoax, apalagi kalo ngomongin import. Pak menteri menyesalkan berita import yang hanya ribuan terus disorot, sementara eksport kita yang ratusan ribu tak pernah disorot sama sekali.

Gorontalo sendiri adalah salah satu provinsi yang sering melakukan eksport jagung ke negara tetangga kita Philipina, tidak dalam jumlah kecil tapi sudah ratusan ribu, dan tahun ini ditargetkan eksport jagung sebesar 150.000 Ton, setelah pada tahun 2018  Pemprov Gorontalo berhasil mengekspor jagung hingga 113 ribu ton dari total ekspor jagung nasional 360 ribu ton.

 Hal ini tentu berpengaruh dalam menurunkan angka kemiskinan di Provinsi Gorontalo, berdasarkan survei pada September 2018, BPS Gorontalo melansir adanya penurunan angka kemiskinan hingga 0,98 poin, yakni menjadi 15,83 persen atau 188,30 ribu jiwa. Padahal pada Maret 2018, angka kemiskinan masih tercatat di 16.81 persen atau sebanyak 198,51 ribu jiwa.

Secara nasional, nilai ekspor pertanian kita juga tumbuh 2 tahun terakhir ini hingga mencapai nilai Rp499,3 Triliun. Tidak heran sektor pertanian menjadi penyumbang Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nomor 2 di Indonesia.

Nilai investasi kita di bidang pertanian selama 4 tahun terakhir juga tumbuh sebesar 110,2% dengan nilai Rp61,6 Triliun.  Tidak heran pemerintah merancang grand desain Indonesia pada tahun 2045 akan jadi lumbung pangan dunia. 
Kegiatan Menteri Pertanian hari itu di Gorontalo tidak hanya untuk menghadiri Forum Merdeka Barat 9 tapi juga akan langsung melepaskan ekspor tepung kelapa 8.160 ton dari Gorontalo ke China, Taiwan, Hamburg (Jerman), Rotherdam (Belanda) dengan nilai ekspor mencapai 8,16 Juta dolar AS (sumber: Antara.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *