Mohungguli

Ngana pe Teman Bercerita

TOLAK GRAB DI GORONTALO KALO……

Tolak Taksi Online Grab Uber Gojek

Kalo ngoni tida mau Gorontalo mo maju, tolak kasana jo itu Grab. Samua yang online-online tolak kasana….

Salah satu komentar netizen Gorontalo itu bisa benar, bisa juga tidak. Maksudnya, sesuatu yang serba online bukan acuan kemajuan suatu kota, tapi benar bahwa bisnis-bisnis digital seperti Grab, GOJEK, UBER adalah masa depan Indonesia. Ini bukan hanya sekadar khayalan, statistik pun menunjukan semakin masifnya ekonomi digital di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika memproyeksikan, pada 2020, ekonomi digital Tanah Air bisa tumbuh mencapai 130 miliar dollar AS atau Rp 1.700 triliun. Angka proyeksi itu mencapai 20 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia. (Ekonomi-Kompas)

Grab bukan aplikasi transportasi online pertama yang beroperasi di Gorontalo, sebelumnya kita mengenal aplikasi Antar-Antar untuk pemesanan transportasi bentor secara online, aplikasi G-Car yang juga mirip Grab. Dan keduanya adalah aplikasi buatan anak Gorontalo, karena kurangnya perhatian dan apresiasi akhirnya 2 perusahaan teknologi ini cukup kesulitan untuk bertahan, hingga kemudian muncullah Grab.

Setelah masuk ke puluhan kota di Indonesia akhirnya Grab mulai beroperasi di kota Gorontalo sejak 15 Februari. Di awal hanya ada sedikit riak-riak penolakan di sosmed tapi lebih banyak yang antusias dengan hadirnya Grab. Tapi perlahan riak-riak ini menjadi gelombang-gelombang kecil yang mulai menarik perhatian.

Belajar dari Keledai yag tak akan pernah jatuh di lubang yang sama, harusnya kita bisa belajar menghadapi konflik penolakan taksi online di daerah lain. Kita tidak boleh terjebak pada perdebatan soal online vs konvensional, kita tidak bisa menolak masa depan dan mengabaikan yang sudah ada. Yang harus kita lakukan adalah meninjau kembali apa keuntungan dan kekurangannya dan bagaimana mencegah konflik agar tidak sampai memakan korban.

Yang harus diketahui di awal adalah ketika Grab mulai beroperasi di Gorontalo, itu artinya mereka sudah mendapatkan izin dari pemerintah yang dalam hal ini pemerintah provinsi dan tentu sudah ada kajian dari pemerintah tentang hal ini. Ya kan?

Ada sedikit perbedaan antara Gorontalo dan kota lainnya, disini tidak ada angkutan umum seperti angkot atau taksi (konvensional), jadi harusnya konfliknya tidak akan terlalu besar bahkan mungkin tidak perlu ada. Bentor memang salah satu kendaraan umum di Gorontalo, tapi kalo dibandingkan dengan taksi online, keduanya punya pasar yang berbeda. Jadi tidak perlu diperdebatkan yang satu akan menggusur yang lain.

Jadi siapa sebenarnya pasar atau pengguna taksi online?, mereka orang yang perlu kendaraan yang nyaman untuk bepergian jauh dengan keluarga atau untuk bepergian ke bandara yang tidak mungkin naik bentor. Lalu siapa pengguna bentor? mereka adalah para pelajar yang menggunakan kendaraan untuk jarak dekat seperti ke sekolah atau kampus.

Jadi kekhawatiran bahwa taksi online akan menggusur kendaraan umum di Gorontalo adalah keliru. Kecuali di Gorontalo sudah ada angkutan kota atau taksi yang sudah beroperasi sebelumnya. Konflik kecil mungkin akan terjadi antara taksi online dan taksi bandara. Tapi hal ini bisa diantisipasi dengan kesepakatan antar keduanya.

Harus di pahami juga bahwa hadirnya transportasi baru di Gorontalo karena pemerintah daerah belumbisa menyediakan Transportasi massal untuk masyarakat. Dengan hadirnya Grab, warga Gorontalo setidaknya jadi punya pilihan transportasi dengan beberapa keunggulannya, seperti:

Kenyamanan & Palayanan
Taksi online memberikan kenyamanan & pelayanan yang baik, karena mobil yang digunakan para driver adalah mobil pribadi jadi penumpangnya pun serasa menaiki mobil pribadi.

Kepastian Harga
Lewat aplikasi kita sudah bisa mengetahui langsung ongkos perjalanannya dan bayarnya sesuai aplikasi tanpa ada lagi tawar-menawar, pengemudi pun tidak bisa seenaknya menaikan harga.

Selain keunggulannya tentu ada kekurangannya dan kekurangan ini bisa jadi alasan kenapa kita harus menolak Grab di Gorontalo! 

Keamanan
Taksi online memang memberikan kenyamanan tapi belum tentu memberikan kemanan, ada banyak kasus yang bisa kita temukan baik di dalam negeri ataupun luar negeri soal kekerasan baik fisik maupun verbal yang dilakukan para driver taksi online. Perekrutan driver harus dilakukan ketat, jika syaratnya hanya punya KTP, SIM, STNK saja tanpa mengetahui personal si driver, sama saja kita mengundang orang asing ke rumah kita.

Keamanan Data
Tidak hanya soal kemanan penumpang, keamanan data penumpang juga penting. Driver taksi online lewat aplikasi punya akses langsung ke nomor telepon pribadi penumpang, driver bahkan bisa tahu alamat rumah kita. Bagaimana jika ada driver yang punya niat “usil”. Siapa yang akan menjamin keselamatan penumpang? Pihak Grab?

Costumer Service
Ketika penumpang memberikan keluhan atau melaporkan driver, semua laporan masuknya ke kantor pusat Grab di Jakarta. Jadi laporan penumpang tidak akan langsung di tindak lanjuti. Maka penting adanya costumer service di daerah yang bisa langsung menindak lanjuti keluhan atau laporan seperti ketinggalan barang dalam mobil.

Hal-hal itu memang kemungkinan-kemungkinan terburuknya, tapi penting untuk ditinjau oleh pengelola agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Intinya kita tidak bisa menolak hal-hal baru kalau ingin maju, mulai banyak perusahaan-perusahaan berbasis teknologi yang mulai melebarkan bisnisnya di Gorontalo. Hal ini tentu membuka lapangan kerja dan keuntungan ekonomi lainnya untuk daerah.

New technology is not good or evil in and of itself. It’s all about how people choose to use it. – David Wong

One thought on “TOLAK GRAB DI GORONTALO KALO……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *